Minggu, 08 April 2012

Smart Parenting: Penyebab Anak Stress

Saya selalu tertarik dengan proses pendidikan, bukan saja dalam kerangka institusional namun juga untuk ruang lingkup yang sederhana yaitu, keluarga.

Pendidikan dalam keluarga adalah bekal awal anak untuk "siap dilepas" di lingkungan sosial. Berikut ada kutipan artikel dari www.kompas.com yang mengupas mengenai penyebab anak stress seperti yang dipaparkan oleh Rustika Thamrin, Spsi, CHt, CI, MTLT, psikolog dari Brawijaya Women and Children Hospital


1. Melarang anak menangis
Semua orangtua pasti ingin anaknya menjadi anak yang hebat. Namun seringkali orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata motivasi yang diberikan justru membebani anak, dan mungkin saja membuat mereka menjadi stres. "Beban dan tekanan ini terutama dialami oleh anak laki-laki dibanding perempuan, karena di kultur Indonesia laki-laki itu dianggap mahluk yang paling kuat sehingga tidak boleh menunjukkan kelemahannya sedikit pun," ungkapnya.
Pola pikir anak-anak dan dewasa berbeda. Anak, terutama pada balita, hanya akan menyerap kata-kata yang terdengar, dan belum bisa memprosesnya dengan sempurna seperti yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, ketika anak terjatuh dari sepeda dan kemudian menangis. Jika yang terjatuh adalah anak perempuan, orangtua biasanya akan membiarkannya untuk menangis. Tetapi ketika yang mengalami adalah anak laki-laki, orangtua pasti akan melarangnya menangis diiringi pesan, "Kamu tidak boleh menangis", "Kamu kan laki-laki, tidak boleh cengeng", atau "Kamu kan anak laki-laki yang kuat, luka ini tidak ada apa-apanya."
Sekilas, tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, karena tujuannya memotivasi anak untuk tidak cengeng. Namun, ketika diserap oleh otak anak, kalimat ini akan memiliki arti yang berbeda. Kalimat tersebut akan diterima sebagai sebuah perintah, yang akan selalu ada di otak mereka sampai dewasa. Masuknya perkataan ini ke otak anak akan membuat anak selalu menahan tangisnya, dan memendam perasaan sedihnya. Hal inilah yang membuat anak menjadi stres. "Tidak heran kalau laki-laki jarang dan malu menangis, karena dari kecil sudah dijejali dengan perkataan seperti itu. Padahal orang sah-sah saja untuk menangis dan mengeluarkan perasaan mereka," tambah Rustika. Menangis boleh saja, yang harus dikontrol adalah frekuensinya.

2. Perilaku orangtua tidak konsisten

Menurut penelitian, anak-anak usia 1-7 tahun akan lebih mudah menyerap berbagai hal di sekitarnya melalui bahasa tubuh seseorang (90 persen), intonasi suara (7 persen), dan kata-kata (3 persen). "Orangtua yang plin-plan akan membuat anak kebingungan, dan akhirnya stres karena orangtuanya tidak konsisten," tambahnya. Seharusnya orangtua bersikap tegas dalam mendidik anak, dan antara suami dan istri bekerjasama agar tercapai kata sepakat. Misalnya, anak dihukum ketika melakukan sebuah kesalahan. Namun ketika ia mengulangi kesalahannya, orangtua tidak menghukumnya. Bahasa tubuh orangtua yang tidak konsisten ketika menghadapi masalah yang sama, seperti kadang bersikap galak dan kadang baik, akan membuat anak tertekan.

3. Membeda-bedakan anak

Banyak orangtua yang secara tak sadar membeda-bedakan anaknya. Meski dalam perbuatan tidak terlalu terlihat, namun intonasi suara yang turun naik ketika menghadapi kakak dan adik akan membuat anak merasakan adanya pembedaan sikap orangtua. "Ketika adik kakak berkelahi, biasanya nada bicara orangtua akan lebih lembut ke adik dibanding kakak, karena mengganggap bahwa kakak yang sudah lebih dewasa harus mengalah," bebernya. Intonasi suara yang berbeda ketika menghadapi kakak dengan nada yang keras, dan adik dengan nada yang lembut, akan membuat si kakak merasa si adik lebih disayang dan ia pun menjadi tertekan.

4. Labeling pada anak
Salah satu yang paling berbahaya yang dilakukan orangtua kepada anak adalah memberi label atau cap kepada anak. Kata-kata seperti, "Dasar kamu anak pemalas", atau "Kamu kegemukan, makanya pakai baju apa saja tidak ada yang cocok", atau "Kamu kok lemot sih, nggak pinter seperti kakakmu?". Hati-hati, labeling, apalagi yang diiringi dengan tindakan membanding-bandingkan anak, tak hanya membuat anak merasa tertekan, tetapi juga mengalami luka batin yang akan terbawa hingga ia dewasa.

5. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. "Jangan main di sana", atau "Jangan dipegang-pegang!", dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata "jangan" dan "tidak" ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.
Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. "Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu," ujar Rustika.

Semoga sedikit tulisan ini berguna untuk menciptakan generasi-generasi yang baik.

Senin, 30 Januari 2012

Aku Benci Dia



“Aku benci dia”

Dalam catatan hidup kita, mungkin ada satu dua orang yang pernah mendatangkan luka. Apa respon yang biasanya muncul? Marah? Kemudian benci? Selanjutnya mendendam?

Pada umumnya yang pertama kali muncul dalam perasaan orang yang disakiti adalah kesedihan. Dan kemudian timbul pemikiran dengan kemarahan bahwa tidak selayaknya diperlakukan seperti itu oleh orang tersebut. Dari sini lah benci berawal, dan tak sedikit yang selanjutnya melahirkan rasa dendam yang bersemayam dalam dada.

Benci? Apa hak kita untuk membenci? Karena kita lebih baik yang berarti lebih sempurna dari orang itu? Tidak, kita semua sama manusia. Dalam kapasitas yang sama, memiliki kecenderungan berbuat salah. Layaknya banyak kaum arif yang berkata, hanya ketakwaan yang membedakan kita. Lantas siapa yang tahu kadar ketakwaan seseorang? Tidak ada, selain Rabbul izzati.

Dalam shirah nabawiyah pun tak pernah tercatat bahwa Rasulullah membenci seseorang yang telah melukai hatinya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Jangan kalian saling hasad, jangan saling mencurangi, jangan saling membenci, jangan saling menjauhi, jangan kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain. Jadilah kalian hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membohonginya dan tidak boleh menghinanya” (HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda: “Orang yang mencintai sesuatu karena Allah, membenci sesuatu karena Allah, memberi karena Allah, melarang sesuatu karena Allah, imannya telah sempurna” (HR. Abu Daud, di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).

Sepotong kisah yang mungkin akan membantu dalam memaknai benci yang tidak dibenarkan:
Suatu ketika di Gaza, (dalam sebuah pasukan) ada seorang dari suku Muhajirin mendorong seorang lelaki dari suku Anshar. Orang Anshar tadi pun berteriak: “Wahai orang Anshar, ayo berpihak padaku”. Orang Muhajirin tersebut pun berteriak: “Wahai orang Muhajirin, ayo berpihak padaku”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun mendengar kejadian tersebut, beliau bersabda: “Pada diri kalian masih terdapat seruan-seruan Jahiliyyah”. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, seorang muhajirin telah mendorong seorang dari suku Anshar”. Beliau bersabda: “Tinggalkan sikap yang demikian, karena yang demikian adalah perbuatan busuk” (HR. Al Bukhari).

Jadi semakin jelas, kerangka membenci harus dikarenakan oleh Allah, bukan karena dorongan nafsu semata. Rasa sakit karena perbuatan orang lain mungkin masih membekas, dengan belajar melihat kekurangan dalam diri sendiri bisa membantu menghilangkan rasa benci dan dendam.

Mungkin saat ini orang tersebut telah menyakiti Anda, bisa jadi di lain waktu atau pada masa lampau Anda juga pernah secara sadar atau tanpa sadar menyakiti orang lain dengan perbuatan atau ucapan. Apa yang Anda harapkan setelah menyadarinya selain penerimaan maaf dari orang tersebut. Dan pastinya kita juga tidak ingin hidup dalam kebencian orang lain.


Marah memang diperbolehkan, sebagai suatu reaksi dari aksi. Marah lah sewajarnya sehingga hati tak akan terkukung dalam kebencian.


Sabtu, 14 Januari 2012

Trend Perjuangan Indonesia Era Demokrasi


Masih ingat mata pelajaran Sejarah pada masa sekolah dulu? Pada umumnya materi pelajarannya berkisar pada cerita perjuangan merebut kemerdekaan. Perjuangan melawan kolonial, baik dengan kekuatan atau pun ideologi. Sosok berkararakter kuat, berpendirian, visioner dan peduli terhadap rakyat kecil pun tergambar kuat dalam benak kita. Bagaimana dengan keras dan pantang mundurnya para pahlawan berusaha menggusur kolonial dari tanah air. Inilah tipe perjuangan zaman pra kemerdekaan.

Beda zaman, beda pula medannya. Saat ini tidak ada lagi meneer yang hilir mudik di pedesaan yang merongrong rakyat untuk meminta secara paksa akan hasil keringat mereka. Upeti itu lah nama yang lebih familiar. Bukan zamannya lagi menuntut dengan mengacungkan bambu runcing. Tahu potret perjuangan sekarang? Tentunya dipengaruhi medan juangnya juga.

Ini zaman reformasi, bung. Setiap orang bebas bersuara, menyatakan pendapat. Begitulah sekarang. Musuh bukan lagi para meneer berambut pirang. Tapi saudara setanah air sendiri. Setiap harinya mata dan telinga kita telah dibiasakan dengan kabar kreativitas para pengunjuk rasa dari berbagai penjuru pulau. Bakar ban, bakar gedung, bakar diri, jahit mulut. Dan yang terbaru, yang lebih menggelikan adalah wakil rakyat desa (Kepala desa beserta perangkatnya) mendemo wakil rakyat pula (Presiden dan keroconya).

Dari demo para kepala desa itu seharusnya kita pun bisa sama-sama mengkaji. Orang yang punya jabatan wakil rakyat pun tidak didengarkan oleh wakil rakyat yang lebih tinggi. Wajar saja kalau rakyat biasa lebih memilih memprotes menghakimi diri sendiri dengan cara jahit mulut dan bakar diri. Atau bisa jadi juga di negeri ini sebenarnya isinya lebih banyak orang-orang yang ngotot ingin segera diwujudkan keinginannya.

Tidak heran jika sekarang seminar atau pelatihan yang dipadati oleh pesertanya adalah yang berbicara tentang pemulihan jiwa, hypnotheraphy, atau bisa dikatakan cara mengatasi diri sendiri.

Inilah realita sekarang. Perjuangan yang tidak lagi menyakiti orang lain untuk mendapatkan keadilan, tapi malah menyakiti diri sendiri. Dan juga bukan lagi perjuangan melawan orang lain, tapi perjuangan melawan (ego) diri sendiri.

Selasa, 27 Desember 2011

Seni Konseling


Manusia diciptakan oleh Tuhan tidak untuk sendiri. Manusia merupakan makhluk sosial. Sehingga kebutuhan akan sesama maupun makhluk lain adalah kodrat kita sebagai manusia. Sebagai makhluk sosial kita berinteraksi dengan orang lain. Tujuannya pun beragam bisa untuk kepentingan bisnis, untuk pencapaian tujuan yang sama (organisasi), dan juga untuk kepentingan pribadi atau bisa disebut kebutuhan akan teman.

Tuhan adalah sosok yang adil. Dia tidak meminta semua kasih dan cinta makhluknya hanya untukNya. Karena itulah Dia berikan makhluknya rasa kasih, butuh dan cinta untuk sesama makhluknya.

Di dunia yang semakin berkembang ini, tuntutan hidup ikut pula bertambah. Masalah-masalah pun terkadang menuntut penyelesaian yang cepat dan matang. Tidak bisa dipungkiri manusia terkadang membutuhkan orang lain untuk membantunya menyelesaikan problema hidup. Atau sekedar untuk berbagi, ikut merasakan masalah yang dihadapi. Terkadang hal ini dirasakan cukup bagi sebagian orang.

Di perusahaan tempat saya bekerja, kebutuhan seperti hal tersebut di atas menjadi perhatian oleh departemen kami, Human Capital Departement. Dalam departemen kami ada program “Month of Counselling” sebagai wujud kepekaan kami atas hal tersebut. Konselor perusahaan adalah seluruh staff Human Capital, termasuk saya sendiri.

Banyak hal yang saya dapatkan dari komunikasi antar personal, informasi, pengetahuan, pengalaman, dan pembelajaran yang mungkin tidak saya dapatkan jika tidak adanya program ini. Konseli yang saya hadapi pun mempunyai latar belakang beragam; pendidikan, keluarga, ekonomi, komunitas sosial.

Para konseli juga merupakan karyawan di perusahaan tempat saya bekerja, hanya saja berbeda departement. Mereka cukup antusias mengikuti program ini. Selalu saja menarik dari tiap cerita yang mereka tuturkan. Bagi saya sendiri setiap sesi konseli merupakan hal yang menarik juga bagi saya. Setiap konseli yang mendatangi saya pada awalnya mereka berpikir bahwa sesi konseli tidak akan menyita banyak waktu. Namun ternyata, setelah satu persatu cerita mereka tuturkan, waktu dua jam yang telah mereka gunakan pun tak terasa. Pernah salah satu konseli sebelum memasuki ruangan saya bertanya pada temannya yang sudah saya konseling,

“koq kamu lama amat di dalam, Ton? Ditanyain apa aja sama bu Lusi?”
”Cuma ngobrol-ngobrol biasa aja, Pak,” jawabnya sambil tersenyum.

Dan setelah si bapak penanya ini selesai menjalani sesi konseling bersama saya, keluar ruangan saya dan melihat jam di atas pintu ia pun terkejut, “waduh bu Lusi, ternyata saya lebih lama dari Pak Anton, “ ujarnya dengan diiringi tawa lepasnya.

Saya hanya tersenyum. Rekan-rekan sesama HC saya pun mengerti mengapa mereka tanpa sadar telah menghabiskan waktu dua jam dalam sesi konseling.

Yang perlu dimengerti dari konseling adalah mindset tentang konseling itu sendiri. Pada dasarnya konseling bukanlah sesi intervieuw atau tanya jawab antara konselor dan konseli. Konseling merupakan sesi di mana konseli menceritakan permasalahannya dan konselor membantu menemukan penyelesaiannya.

Konselor yang baik dan benar adalah konselor yang mampu menggerakkan konseli bercerita dengan lugas. Lugas berarti ia bisa dengan nyaman bercerita dengan jujur dan penuh rasa. Bukanlah hal yang tepat jika konselor mengemukakan pandangan pribadinya atas permasalahan si konseli, terlebih ia menjudge konseli atau pada orang-orang dalam cerita si konseli.

Yang perlu dilakukan konselor adalah:
1. Mendengarkan seksama cerita/ permasalahan si konseli;
2. Menganalisa cerita/ permasalahan;
3. Membingkai ulang (reaframing) masalah;
4. Membantu konseli menganalisa sumber masalah;
5. Membantu konseli menemukan solusi melalui diskusi analisa masalah dan uji SWATT solusi;
6. Selalu menggunakan kata-kata positif

Solusi akan lebih mudah diterima oleh konseli bila konselor menggunakan kata-kata positif dalam penyampaian bukan kata-kata perintah. Misal, “Mulai sekarang Bapak JANGAN lagi merokok.” Kata-kata ini tentu saja akan ditolak mentah-mentah oleh konseli. Karena kata “JANGAN” itu bernada perintah.

Cobalah dengan katakan, “Alangkah baiknya jika Bapak mulai saat ini uang yang sering Bapak gunakan untuk membeli rokok ditabung untuk pendidikan si kecil. Dan pada saat si kecil telah menamantkan sarjananya, Bapak bisa tertawa sambil berkata Wah, ini hasil jatah uang rokok saya dulu.” Bisa dipastikan si konseli pun akan sumringah dan melangkah ke luar ruangan konseling dengan penuh rencana positif.

Sebenarnya sifat dari manusia itu sendiri, tidak semuanya membutuhkan bantuan pandangan atau ide dalam pemecahan masalahnya. Terkadang kita hanya butuh orang yang mendengarkan dan berempati terhadap masalah kita. Mungkin sedikit gambaran solusi juga dibutuhkan. Tapi keputusan final mengenai solusi yang akan digunakan kembali pada masing-masing pribadi.

Di sini lah pentingnya pemahaman posisi sebagai konselor. Konselor adalah pemandu/ pengarah kepada solusi yang tepat. Tujuan konselor yang sebenarnya adalah membuat konseli pada saat keluar ruangan konseling dipenuhi semangat dan rencana tindakan yang tepat. Dan tujuan konseli sendiri adalah menemukan solusi pemecahan masalah. Berikut hal-hal yang boleh dan tidak dilakukan oleh konselor agar tujuan konselor dan konseli tercapai:
1. Jangan melihat jam/ waktu
2. Usahakan tetap fokus melihat konseli, sesekali bisa melihat ke arah samping kiri-kanan konseli untuk meregangkan otot mata. Namun jangan melihat ke arah jendela atau luar ruangan, karena perhatian si konseli akan terpecah.
3. Berikan pujian yang wajar pada hal-hal istimewa yang diceritakan konseli. Hal ini mampu membuat konseli nyaman dan merasa didengarkan.
4. Jangan terprovokasi untuk memberikan pandangan pribadi terhadap isi cerita konseli.
5. Sebelum sesi konseling, pelajari dahulu latar belakang konseli. Dengan adanya informasi mengenai konseli, konselor mendapatkan gambaran awal tentang konseli yang akan dihadapinya. Hal ini bermanfaat untuk membantu konselor mempersiapkan diri menghadapi karakter konseli.

Konseling merupakan ketrampilan dalam memahami dan menghadapi bermacam-macam karakter. Pemahaman atas karakter tidak hanya bisa didapatkan dari buku-buku, namun pergaulan dalam kehidupan sosial pun dibutuhkan. Sejatinya konselor harus orang yang telah mengenal karakternya sendiri juga mampu menganalisa problem dan solusi sendiri.

Minggu, 25 Desember 2011

Menikmati Sungai Musi dari Berbagai Sudut Jembatan Ampera




Pemenang Lomba Essay Jelajah Musi-Kompas

Dulu dan Kini

Ketika kata “Sungai Musi” diucapkan, apa yang langsung muncul di benak Anda? Banyak yang akan langsung teringat pada Jembatan Ampera. Jembatan yang terbentang di atas sungai Musi dengan panjang 1.177 meter, lebar 22 meter dan tinggi 11,50 meter di atas permukaan air. Dulu, jembatan ini pada bagian tengahnya dapat daingkat dan dilalui kapal yang memiliki tinggi maksimum 44, 50 meter.

Ada juga yang berpikir, terutama yang berasal dari luar Sumatera Selatan, bahwa Sungai Musi itu sungai yang terletak persis di bawah Jembatan Ampera. Padahal Sungai Musi panjangnya mencapai 720 km. Sungai yang membelah Propinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat ini bercabang-cabang. Sungai Musi memiliki delapan anak sungai besar yaitu, Sungai Komering, Ogan Lematang, Kelingi, Lakitan, Semangus, Rawas dan Batanghari Leko.

Sungai Musi dan Jembatan Ampera menjadi salah satu kebanggan Sumatera Selatan, tak terkecuali saya. Pada era 1990an, saya selalu menanti kesempatan diajak oleh orang tua saya jalan-jalan ke Palembang. Karena saya suka sekali menaiki Perahu Ketek dan Perahu Motor (Speed Boat). Saya berasal dari Kota Prabumulih, sehingga jika ke Palembang saya harus menggunakan bus umum jurusan Palembang-Prabumulih. Bus ini menurunkan penumpangnya di daerah Seberang Ulu Sungai Musi tepatnya di bawah Jembatan Ampera, daerah ini disebut Bawah Proyek. Dari Bawah proyek ini tujuan keluarga saya ialah daerah Seberang Ilir, pusat kota Palembang. Untuk menyebrang kami harus menggunakan jalur air dengan Ketek atau juga bisa dengan Perahu Motor. Karena saat itu transportasi umum dengan jalur darat masih sangat sedikit.

Saya sangat menikmati ketika duduk di dalam alat transportasi air ini, merasakan deru angin yang menyibakkan rambut. Atau biasanya saya menikmati pemandangan di bawah Ketek dengan air yang masih jernih serta pemandangan sekitar sungai yang disebut sebagai Batanghari Sembilan ini. Banyak Perahu Ketek, Perahu Tongkang, Rakit dan Perahu Motor yang berpapasan dengan kami. Hal ini menandakan bahwa dulunya masyarakat masih banyak bergantung pada alat transportasi ini.

Kalimat Lain Dulu Lain Sekarang dapat dilekatkan dengan suasana daerah Sungai Musi, terutama di kawasan Kota Palembang. Sekarang tidak banyak lagi masyarakat yang menggunakan transportasi air sebagai angkutan umum untuk menyebrang. Perahu Tongkang, Rakit, dan Ketek sekarang sering digunakan untuk mengangkut barang dan hasil bumi. Transportasi darat yang sudah semakin lancar menjadi salah satu faktornya.

Cara Menikmati Sungai Musi

Sungai Musi, khususnya kawasan bawah Jembatan Ampera bagian Seberang Ilir, merupakan kawasan pusat wisata sejarah. Hal ini tidak terlepas dari peran Sungai Musi pada zaman Kerajaan Sriwijaya yang menjadi jantung kerajaan. Banyak peninggalan sejarah yang berada di tepian sungai ini. Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak (BKB), Monpera (Monumen Penderitaan Rakyat), Kantor Ledeng, sekarang Kantor Walikota Palembang, Masjid Agung Palembang yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badarudin I, hingga Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang berdiri di lokasi Benteng Kuto Lamo bersebelahan dengan BKB. Bangunan-banguan ini baru sebatas bangunan sejarah yang ada di seputaran Jembatan Ampera yang dapat dinikmati hanya dengan berjalan kaki, karena kawasannya yang tidak berjauhan.

Saya sendiri sering duduk di tepian Sungai Musi, di area dermaga wisata Benteng Kuto Besak. Di tempat ini terdapat pagar pembatas dengan sungai yang terbuat dari semen. Selain itu terdapat beberapa bangku yang juga terbuat dari semen. Saya memilih waktu sore hari untuk menikmati pemandangan di tepian Sungai Musi ini.

Pedagang kaki lima semakin banyak ketika malam mulai menjelang, karena pada waktu inilah masyarakat yang berdatangan pun bertambah. Terlebih jika digelar pertunjukan di atas panggung yang dibangun pemerintah di kawasan ini.

Pilihan menikmati Sungai Musi di bawah Jembatan Ampera menjelang malam, bukan tanpa alasan. Selain udara yang cukup panas saat siang hari, Jembatan Ampera menjadi daya tarik sendiri. Ketika gelap mulai menyelimuti Kota Palembang, lampu-lampu yang dipasang di jembatan ini seakan menyihir mata. Seperti melihat bintang-bintang yang tergantung rendah. Kendaraan milik pengunjung pun ikut menyesaki kawasan bawah Jembatan Ampera daerah Seberang ilir ini tiap malamnya. Menandakan bahwa masyarakat tidak pernah bosan untuk menikmati suasana di sini.

Tidak perlu takut kelaparan bila berada di seputaran tepian Sungai Musi BKB, karena pedagang makanan pun menjamur. Dari makanan tradisional (pempek, mie celor, model dan lain-lain) hingga makanan dari daerah lain (bakso, mie ayam, dan lain-lain). Ada juga warung terapung yang menyajikan makanan khas Palembang.

Pada pagi hari, terutama saat hari libur, kawasan ini dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai arena olahraga. Banyak yang menjalani aktivitas lari pagi dan Senam Kesegaran Jasmani.

Tidak hanya dari kawasan bawah Jembatan Ampera kita dapat menikmati pesona Sungai Musi dan perangkatnya. Dari atas jembatan pun keelokan Sungai Musi dapat dirasakan. Pada malam hari cobalah untuk melemparkan pandangan ke arah kawasan Pasar 16 Ilir. Maka mata pun akan terpana seperti melihat kota terapung karena pesona perpaduan lampu-lampu yang berasal dari PT Pusri Sriwijaya dan Pertamina yang terletak di pinggir sungai.dengan gelapnya Sungai Musi.

Menghidupkan Sungai Musi

Upaya menghidupkan Sungai Musi tidaklah mudah. Karena luas Sungai Musi sendiri tidak hanya sebatas sungai yang berada di pusat kota Palembang, tapi meliputi sungai-sungai yang menjadi cabangnya yang berada di beberapa daerah, di antaranya Kabupaten Empat Lawang, Musi Banyuasin dan Banyuasin.

Kadang terbesit di pikiran saya, mengimpikan Sungai Musi menjadi Venice-nya Indonesia. Terlebih saat melintasi Jembatan Ampera, akankah rasa kebangaan saya akan terus bertahan. Keraguan ini muncul seiring dioperasikannya jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) yang juga tak kalah mampu menahan decak kagum orang yang melihatnya. Tapi perasaan itu sedikit terhibur ketika malam menjelang karena indahnya pemandangan kolaborasi Sungai Musi, Jembatan Ampera dan cahaya-cahaya dari lampu-lampu daerah sekitar.

Namun sayang sekali karena kawasan ini hanya dapat memberikan pemandangan yang membanggakan tersendiri pada malam hari. Saya sendiri agak enggan melihatnya. Karena di siang hari terlihat jelas keruhnya air Sungai Musi.

Banyak faktor yang menyebabkan keruhnya Sungai Musi. Sanitasi yang buruk, limbah industri dan rumah tangga, aktivitas penambangan dan tidak adanya kesadaran dalam diri masyarakat menjadi beberapa faktonya.

Memang tidak gampang memenuhi target menghidupkan Sungai Musi meliputi keseluruhan daerah sungai cabang Sungai Musi dalam waktu hitungan jari. Namun kalau terlebih dahulu dipusatkan pada kawasan kota Palembang sebagai pusat wisata sedangkan daerah lain, luar Palembang, difokuskan penataan kawasan maka menghidupkan Sungai Musi bukanlah menjadi rencana lagi. Pendapatan yang diperoleh dari sektor wisata ini dapat digunakan untuk menghidupkan kawsan Sungai Musi di daerah lain.

Langkah pertama yang seharusnya dilakukan pemerintah provinsi yaitu mengadakan pengerukan. Pengerukan ini perlu karena kondisi Sungai musi yang telah mengalami pendangkalan dan keruh. Aktivitas penambangan, hasil limbah industri dan rumah tangga cukup berperan menciptakan kondisi ini.

Kemudian pemerintah provinsi juga memfasilitasi dibangunnya tempat sanitasi di darat untuk masyarakat yang berada di pinggiran sungai. Karena mayoritas penduduk yang tinggal di daerah tepian sungai ini merupakan golongan ekonomi ke bawah.

Membangun kawasan pusat wisata sungai di Palembang lebih tepatnya, untuk tahap awal, dengan memfokuskan pada rute sederhana dahulu yaitu Jembatan Ampera-Pulau Kemaro. Pembangunan pusat wisata sungai ini dapat dimulai dengan penataan kawasan di bawah Jembatan Ampera di antaranya, relokasi pedagang kai lima agar terlihat lebih rapi, penanaman pohon di beberapa titik agar udara sekitar pada saat siamg akan terasa lebih sejuk.

Sosialisasi pada masyarakat Palembang juga dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran membantu menyukseskan program wisata sungai, yang tidak lain merupakan program bersama. Selain itu transportasi sungai untuk tujuan wisata juga perlu ditingkatkan baik dari segi fasilitas maupun pelayanan. Perahu atau kapal yang dibuat menarik sedemikan rupa mampu menjadi nilai tambah, dan lebih lengkap jika dengan adanya pelayanan professional.

Untuk menjadi referensi program ini yaitu Kota Venesia yang terkenal dengan Sungai Venice-nya. Pemerintah Venesia mampu melihat dan mengembangkan potensi dari sungai ini. Bangunan-bangunan yang berdiri di pinggiran sungai yang jernih dengan gondola yang berseliweran mengangkut penumpangnya, selalu menjadi salah satu tujuan wisatawan mancanegara. Para pendayung gondola pun tidak sekedar membawa penumpang ke tempat tujuan, tetapi juga menyumbangkan suara khas penyayi Italia, walau tidak sekaliber Papparotti. Namun hal ini cukup mendatangkan suasana khas Italia.

Sungai Musi pun memiliki potensi yang besar untuk menjadi wisata sungai internasional, jika pemerintah dan masyarakatnya mau bekerjasama.

Semburat Jingga Senja


Pada sebuah semburat jingga senja, Saya tersenyum. Tersenyum untuk cerita yang pernah ada juga tokoh-tokoh yang pernah berperan dalam episode hidup Saya.
Banyak hal dalam tiap episode hidup kita. Semua telah ditetapkan olehNya. Hanya saja kita diberikan kebebasan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh untuk meraih tiap ketetapan itu.

"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir."
(Q.S 76:3)

Selanjutnya kita diberikan juga kesempatan untuk mengambil hikmah dari tiap episode tersebut. Bagaimana cara kita memaknai setiap ketetapanNya, ketetapan yang menyenangkan bagi kita atau ketetapan yang pada awalnya tampak seperti musibah.

Ambil sejenak waktu mu untuk mulai merenungkan hakikat penciptaan mu, juga tiap nikmat yang Allah curahkan. Bagaimana bisa kita terkadang menomorduakan atau bahkan menomor sekian kan dalam penghambaan kita? Padahal Ia tak pernah lelah mencurahkan nikmatNya. Sedangkan bila kita disuruh untuk menemui orang penting, semacam manager atau presiden, kita pun bergegas, mengenakan pakaian bagus dan jangan sampai kita terlambat. Lantas, bagaimana ketika kita Allah telah memanggil kita? Tak jarang, hanya ujung waktu yang kita berikan. Pakaian untuk menghadapnya pun terkadang tidak terlalu kita risaukan. Betapa teganya kita? Sedang Ia dengan kelembutanNya tetap menyayang.

Banyak hal yang bisa kita jadi kan bahan perenungan, tentang keMahaanNya. Dalam setiap kesalahan yang kita buat, bila kita menyadari hanya Ia lah yang Maha Sempurna dan kita pun akan menyadari hakikat manusia yang lemah. Dari adanya kesadaran tersebut maka kita pun akan tidak mudah membenci manusia yang telah mendzhalimi kita. Karena kita hanyalah sesama manusia yang penuh kedhaifan. Bisa jadi orang tersebut salah, tapi kita juga terkadang tidak semuanya benar. Bukankah ada aksi maka ada reaksi?

Itulah yang Saya rasakan. Mencoba selalu menggambar senyum pada sang hati. Mungkin beberapa cerita di masa lalu ditutup dengan tidak menyenangkan. Tapi apa gunanya mengutuk yang lalu tanpa ujung.

Jangan terlalu memikirkan masa lalu, sebab engkau bisa sedih dan malu. Percayalah bahwa masa lalu akan membuatmu menghargai waktu bila engkau menjadikannya pelajaran terbaik bagi dirimu. Jangan sesali apa pun yang sudah berlalu; jangan biarkan engkau terus menangisinya dengan pilu. Yang harus engkau sadari adalah, bagaimana sekarang engkau memperlakukan diri. Apakah engkau sudah benar melewati setiap saatmu di kehidupanmu sekarang? Karena itu, isilah waktumu dengan istiqamahnya ibadah, sadari kekuranganmu dengan muhasabah, lalu perbaikilah dengan taubah. Maka biarkan saja masa lalumu jadi musibah, yang penting sekarang engkau menjadi pribadi yang berubah. Berjalanlah menujuNya dengan tekun dan tabah. (Al-Hikam)

Saya punya sahabat terbaik, di mana Saya tidak perlu berbohong dan menutupi segala rasa yang ada. Saya bisa dengan bebas bermanja, merengek dan menangis. Sahabat yang selalu ada dalam tiap keaadaan Saya. Allah SWT ialah "Sahabat" terbaik ku.

Rabu, 26 Oktober 2011

Berpikir Merdeka (Memerdekakan diri)


Kehidupan dunia memang begitu indah. Sangat disayangkan ketika kita tak mampu merasakan nikmat dunia dengan rasa tenang dan damai. Tahu maksud saya?

Indah dan menggiurkan nikmat dunia. Namun akan menjadi semu saat kita tidak mampu mengelola kehidupan dunia dengan baik. Nikmat menjadi sesaat karena selebihnya terkandung keresahan dan kegelisahan. Resah dan gelisah yang tak disadari yang kemudian menjelma menjadi pikiran dan perilaku negatif. Kemudian kala pikiran dan perilaku negatif mulai merongrong diri, apakah sudah bisa dikatakan kalau kita sudah merdeka, merdeka pribadi?

Seperti apa merdeka pribadi itu?

Merdeka adalah ketika kita tak dipusingkan lagi atas komentar-komentar orang mengenai diri kita.

Merdeka adalah ketika kita tak terusik lagi karena perlakuan tidak baik atau yang tidak kita inginkan terjadi pada kita. Tak akan ada kesedihan untuk hal ini.

Merdeka adalah ketika kita tidak direpotkan dengan target pencapaian kemakmuran duniawi.

Merdeka adalah ketika kita mampu melakukan segala sesuatu tanpa embel-embel harapan akan penghargaan dari orang lain.

Merdeka adalah ketika kita tak sibuk mencari tahu mengenai kehidupan orang lain dalam konteks "memata-matai" sebagai bahan referensi menilai sikap orang lain. Dengan kata lain tidak disibukkan dalam rangka untuk menyimpulkan karakter orang lain.

Mengapa poin-poin di atas dapat dikategorikan sebagai merdeka pribadi?

Untuk definisi yang pertama, merdeka adalah saat kita bebas bersikap dan berperilaku, terbebas dari keinginan untuk memenuhi persepsi orang lain mengenai "baik" menurut versi mereka. Ada sepuluh orang, maka akan ada sepuluh definisi tentang baik. Apakah kita akan "membelah" diri menjadi sepuluh agar kita dikatakan baik oleh kesepuluh orang tersebut?
Bukankan Allah SWT telah memberikan sosok teladan? Sang Nabi pengakhir zaman. Sehingga kita tak akan terombang-ambing dalam menentukan sumber inspirasi yang kekal dan tak akan mengecewakan.

Perhatikanlah. Ketika seseorang menemukan "cacat" pada sosok penginspirasi kehidupannya, maka tak jarang yang muncul adalah kekecewaan. Bebaskanlah dirimu. Wajarkanlah dalam mencari sumber inspirasi di zaman sekarang. Sadarilah, manusia hanyalah sosok yang dhaif (lemah), pasti ada/ pernah tergurat kesalahan. Menyadari lemahnya manusia dan Maha Agungnya Allah SWT akan menggiring kita menjadi jiwa pemaaf. Pemaaf adalah salah satu wujud dari pribadi yang merdeka. Merdeka dari rasa dendam, benci juga sakit hati.

Tidak adanya kesedihan berkepanjangan akan perlakuan tidak baik terhadap diri kita adalah salah satu bentuk kemerdekaan diri. Kita merdeka dari penguasaan rasa sedih yang disebabkan orang lain. Jika kita masih terus-terusan bersedih, itu artinya kita tidak lagi mempunyai kendali terhadap rasa kita, orang lain tsb lah yang telah mengambil kendalinya. Maka menenangkan jiwa dari kesedihan atas perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain adalah bentuk pemerdekaan diri.

Maksud dari "Tidak direpotkan dengan pencapaian target duniawi" adalah bahwa kita merdeka dari tekanan-tekanan akan pencapaian. Kita hanya perlu berusaha sebaiknya, toh akan ada yang memberikan hasil akhir, ialah Allah. Merdekakan diri dari tekanan, sehingga pencapaian duniawi akan menaut dengan pencapaian akhirat.

Melakukan segala sesuatu dengan adanya harapan akan dihargai orang lain, akan membuat kita tertekan. Tidak ada lagi kenikmatan dalam aktivitas tersebut, dengan kata lain kita telah terpenjara oleh harapan penghargaan tersebut. Merdeka adalah tidak adanya rasa tertekan.

Mencari tahu seluk beluk kehidupan orang lain merupakan bentuk tidak merdekanya diri kita dalam hidup. Kita disibukkan dengan menyelidiki atau mencari informasi kehidupan orang lain, sementara kita telah mengabaikan pencapaian-pencapaian hidup kita sendiri. Hidup kita berarti telah dihantui bayang-bayang kehidupan orang tersebut. Di mana lagi letak kemerdekaan pribadi?

Berpikir merdeka maka tindakan pun akan mendorong ke arah merdekanya pribadi kita. Merdeka pribadi bukan berarti juga apatis. Merdeka pribadi adalah merdeka dalam menikmati kehidupan, tanpa tekanan.