Sabtu, 22 Oktober 2011

Menyusun Potongan Mimpi



22 Oktober 2011 - Tiap harinya pasti kita memiliki cerita yang tak sama dengan kemarin. Begitu juga dengan hari saya, hari ini. Semalam sebuah sms dari teman dekat mampir di ponsel. "Jam 7 besok  jogging yuk." Sumringah  tak bisa disembunyikan. Seorang teman layaknya seorang saudara sendiri. Sedikit geli karena si teman ini telah memiliki suami, dan saya menggodanya dengan meminta jadwal jogging kami dipercepat, jam 6 pagi. Hehehe, sudah pasti tidak bisa.

Jadilah jogging kami jam 7 pagi di kampus Unsri Indralaya. Ia menunggu  di depan Auditorium Unsri,  suaminya juga di sana bersama teman-temannya. Sekitar 15 M sebelum saya sampai di depan auditorium, teman saya ini sudah berjalan mendekat menghampiri. Say Hello, cipika-cipiki, maklumlah saya bekerja di kota berbeda dengannya dan kebetulan singgah di Indralaya. Rute awal jalan santai (joggingnya digantikan jalan santai, hehehe) yaitu Fakultas Kedokteran. Banyak pembangunan di kampus Unsri sekarang. Aktivitas kampus pada hari libur kuliah pun jauh lebih terlihat ramai sekarang. Berbeda jauh sewaktu saya masih semester awal di kampus ini, pemandangan yang biasa terlihat ketika libur adalah babi-babi liar yang berseliweran di tengah jalan kampus.

Area parkir Fakultas Teknik menjadi pilihan kami untuk beristirahat dan bercakap-cakap. Cerita-cerita selama kami tak bertatap muka pun mengalir satu persatu. Saya bercerita mengenai persiapan melanjutkan studi. Si teman bertutur mengenai usahanya bersama si suami mengelola Bimbel di kota ini dan juga rencana pengembangan di daerah lain.

Sebelumnya, beberapa tahun setelah kami kenal kami kerap berdiskusi mengenai pencapaian-pencapaian kami. Tak jarang kami pun terkadang mewujudkan beberapa mimpi bersama. Saling mendukung, mengingatkan dan memberi saran hingga sekarang pun masih tetap berjalan. 

Dulu, kondisi yang kami hadapi hampir sama. Dari sama-sama mahasiswa, sama-sama pejuang skripsi, sama-sama jobseeker. Walaupun dengan kondisi yang sama tetap saja kami memiliki pilihan-pilihan berbeda. Saya memilih Hukum Internasional untuk fokus studi ku, sedangkan dia Hukum Tata Negara. Dia memilih lebih fokus di aktivitas dakwah kampus sejak awal kuliah, sedang saya memilih pers mahasiswa dari awal hingga akhir kuliah, tapi sempat juga berkecimpung di area yang sama dengannya

Sekarang dia telah memiliki kehidupan baru, dan tentu saja tetap dengan dunia yang berbeda dari saya. Saya belum berkeluarga dan  pegawai swasta. Tapi hari ini membuktikan bahwa tiap pilihan dan dunia kami yang berbeda, kami masih tetap bisa bersama merumuskan mimpi-mimpi kami, meyusun potongan-potongan mimpi kami. 

Tiap cerita masing-masing telah menginspirasi dan memotivasi satu sama lain. Saya semakin mengerti, mengapa Rasulullah SAW mencintai Sayidinna Ali, tidak lain karena hati diikatkan oleh  Allah SWT. 

Ketika rasa ditempatkan pada posisi yang semestinya, maka Allah lah yang akan menjaga rasa itu.

Dengan pilihan dan dunia yang berbeda, setidaknya kami memiliki titik akhir yang sama, menciptakan generasi yang cerdas dunia dan akhirat. Sebuah pendidikan menyeluruh yang beradab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar